Artikel Populer

Mengenal lebih dekat anak marjinal dan ADHA

Mengenal lebih dekat anak marjinal dan ADHA

Dunianya dekat sekali dengananak-anak, khususnya anak-anak yang dimarjinalkan dari lingkungan sosial. MaxAndrew Ohandi, tak sekadar bersimpati pada mereka tetapi peduli melalui YayasanBudaya Mandiri dan buku Giving Empathy.

Pada awalnya Yayasan Budaya Mandirihanyalah sebuah gerakan pribadi ketika Max masih SMA. Kala itu, Max memulainyadengan mengajar Calistung (baca, tulis dan hitung) anak-anak jalanan di lampumerah Klender dan Rumah Belajar Kebun Singkong, Jakarta Timur. Sempat digusur, padatahun 2015, Max pun untuk menyewa tempat untuk kegiatan belajar. Pelayananpendidikan mereka pun berlanjut dengan fokus calistung, kelompok belajar kelasenam dan beasiswa.

Max bertutur kisah menarik salah satuanak jalanan yang dulu ia ajari di lampu merah Klender. Putri namanya, dia jagobanget jualan koran. Kenapa? Karena Putri bisa membaca dibandingkan teman-temanyang lain. Ketika berjualan koran, Putri selalu membaca isi koran tersebutuntuk kemudian dia ceritakan kepada calon pembeli untuk memancing rasapenasaran mereka. Akhirnya mereka pun membeli koran itu. Kini Putri sudahmemiliki kios koran sendiri dan tahun lalu dia lulus SMA dengan hasil berjualandari kios itu.

img-1456316973.jpg

Saya percaya 100 anak tidak memilikipendidikan mungkin awal dari pemberontakan. 1 anak dengan pendidikan pastilahawal dari gerakan. ungkapnya saat ditanyai alasan mengenai kepeduliannyaterhadap pendidikan anak-anak marjinal.

Giving empathy

Aktif sebagai aktivis di beberapayayasan sosial membuat Max semakin banyak mengenal anak-anak marjinal, salahsatunya ADHA (anak dengan HIV/AIDS). Ketika melakukan pelayanan di KampusDiakonia Modern (KDM), Max melakukan penjangkauan, konsultasi dan pelayanan dijalanan. Dari situlah Max mendapatkan info seorang anak jalanan yatim piatuyang terkena HIV/AIDS di daerah Jakarta Utara. Bersama teman-teman relawan, iamendatangi dan mengobrol dengan nenek ADHA.

img-1456317051.JPG
MaxAndrew Ohandi/Foto: Ifa Ikah

Saya dan teman-teman sempatkesulitan menjawab pertanyaan neneknya karena kebanyakan kasus HIV/AIDS terjadipada orang dewasa. Saya searching diinternet pun jarang dan hanya ada informasi mengenai kasus HIV/Aids pada orangdewasa. ujarnya.

Minimnya informasi tentang ADHA dancara penanganan ADHA melatar belakangi Max untuk menulis kisah mereka sehinggaketika ada keluarga lain yang terkena dan mencari informasi mengenai ADHA, ada.Max pun datang ke sekolah-sekolah dasar untuk menginformasikan HIV/Aids dengancara berdongeng. Pengetahuan tentang HIV/AIDS harusnya ditanamkan sejakdini agar tidak ada stigma buruk dandiskriminasi pada penderitanya. Karena sebenarnya HIV/AIDS hanya bisa tertularlewat darah, cairan kelamin, ASI, dan jarum suntik tidak steril. Bukan melaluisentuhan dan udara. jelas Max.

Awalnya saya berfikir orang HIV/AIDSitu orang yang berdosa dan melakukan seks bebas. Saya kaget ternyata ada yaanak yang terkena dari ibunya. Anak-anak tidak berdosa dan mereka memilikikerajaan sorga. Dari situ saya sadar dan empati lalu mulai menulis kisah merekadalam buku Giving Empathy.tambahnya.

Penulis: Ifa Ikah


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

ayooo..ayooo..dibaca... banyak rtikel-artikel menarik lohh :) ...

Kintan Lestari

Keren!!! speakmagz volume duanya udah terbit...

Kintan Lestari

jalan-jalan ke kota paris, jangan lupa beli pepaya, semoga semakin keren ! #ceritanyagagalberpantu...

Leo_alp

Selalu menjadi jendela dunia yang terbaik...

Herzanindya Maulianti

Welcome to RMC Family!! Akhirnya portal online ini rilis, perpaduan antara entertainment dan edukasi...

Alicia Van Akker

semoga semakin bagus kedepannya :) ...

Kintan Lestari

akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga! Semoga terus meningkatkatkat...

Sifa Maulida
Kategori