Artikel Populer

Fakta bahwa kebenaran logika dan emosi yang tak dapat bersatu

Fakta bahwa kebenaran logika dan emosi yang tak dapat bersatu

Speakers, mungkin kamu sering mendengar sebuah pernyataan bahwa lelaki menyelesaikan masalah menggunakan logika sementara perempuan menggunakan perasaan. Jika kamu menemani pasangan membeli baju, maka hal yang lebih utama yang dilihat selain harga ialah pelayanan dari penjaga toko tersebut. Apakah kamu akan merasa nyaman untuk bertransaksi atau justru kamu merasa bahwa kehadiranmu mengganggu sang empunya toko? 


Hal di atas erat kaitannya dengan perasaan, lho. Berbeda hal dengan doi yang lebih memilih untuk membeli baju yang sudah merasa pas di tubuh tanpa memikirkan embel-embel harga dan pelayanan yang baik atau buruk. Sama halnya jika kamu bertengkar dengan teman lelakimu. Biasanya, mereka hanya butuh menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat sasaran secara langsung alias tatap muka. Berbeda sekali ketika kamu bertengkar dengan teman perempuanmu, biasanya ada fase-fase menyindir di media sosial dan mencari dukungan sebanyak-banyaknya dari teman terdekat agar kamu merasa percaya diri bahwa kamulah yang sebenarnya tidak bersalah.


Rupanya, seorang peneliti sains kognitif Anthony Jack dari Case Western Reserve University di Ohio, Amerika Serikat, melakukan uji kemampuan otak manusia dalam mengolah logika dan empati di dalam sebuah permasalahan. Seperti dikutip http://tempo.com bahwa Jack begitulah sapaan akrabnya memindai 45 otak mahasiswa ketika dihadapkan permasalahan dari soal sosial dan soal fisika. Hasilnya, alat pemindai menunjukkan bahwa bagian di dalam tubuh manusia yang aktif ketika dihadapkan dua aktivitas tersebut ialah otak.


Jack menambahkan bahwa ketika otak sibuk berempati, jaringan saraf yang berfungsi untuk menganalisis masalah (logika) beristirahat. Pergantian sistem tersebut bergantung pada aktivitas yang sedang dilakukan. Kendati demikian, bukan berarti lelaki enggak bisa menyelesaikan masalah menggunakan perasaannya, guys. Lelaki akan luluh jika menghadapi permasalahan kemanusiaan, ketika hal itu terjadi maka jaringan saraf logika mereka akan beristirahat dan digantikan oleh jaringan saraf bagian empati.


Nah, sekarang jelas, kan, Speakers, bahwa fungsi otak di dalam tubuh manusia memang sudah terbagi atas jaringan saraf empati (perasaan) dan masalah (logika) yang cara bekerjanya enggak bisa tuh, disatukan di dalam satu permasalahan.


Penulis: Dembondya
Sumber gambar: http://nisaaaaa.wordpress.com 


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

ayooo..ayooo..dibaca... banyak rtikel-artikel menarik lohh :) ...

Kintan Lestari

Keren!!! speakmagz volume duanya udah terbit...

Kintan Lestari

jalan-jalan ke kota paris, jangan lupa beli pepaya, semoga semakin keren ! #ceritanyagagalberpantu...

Leo_alp

Selalu menjadi jendela dunia yang terbaik...

Herzanindya Maulianti

Welcome to RMC Family!! Akhirnya portal online ini rilis, perpaduan antara entertainment dan edukasi...

Alicia Van Akker

semoga semakin bagus kedepannya :) ...

Kintan Lestari

akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga! Semoga terus meningkatkatkat...

Sifa Maulida
Kategori