Artikel Populer

Bukan cuma Kartini, beberapa pahlawan perempuan ini juga layak diteladani

Bukan cuma Kartini, beberapa pahlawan perempuan ini juga layak diteladani

Perempuan, jenis lain makhluk yang diciptakan Tuhan tak hanya sekadar pelengkap kaum laki-laki saja. Perempuan memiliki peran tersendiri dalam kehidupan bahkan melakukan pergerakan yang berdampak besar pada kaumnya. Seperti beberapa perempuan-perempuan tangguh di Indonesia. Siapa saja mereka? Yuk, lebih mengenal lebih sosok mereka.

1.RA. Kartini

Sudah jelas terdengar biasa di telinga Speakers mungkin kalau Kartini terkenal lewat pemikiran-pemikiran yang kontradiktif di zamannya. Lewat surat-surat yang dia kirim ke sahabat penanya, Estelle “Stella” Zeehandlaar di Belanda, Kartini berbicara tentang kebebasan, kemerdekaan dan kemandirian. Lahir pada 21 April 1879. Dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, meski ibunya Ngasirah perempuan dari kalangan biasa. Hidup sebagai anak Bupati Jepara membuat akses pendidikan Kartini lebih mudah dibandingkan pribumi lainnya. Di sekolah Europeesche Lagere School Kartini sangat menonjol karena sikapnya yang lincah, gesit, pintar, dan mudah bergaul.

Awal 1892, Kartini baru saja lulus Europeesche Lagere School dan meminta izin kepada ayahnya untuk melanjutkan ke Hogere Burger School (setingkat sekolah menengah) di Semarang, tetapi tidak diizinkan dan malah dipingit. Enam tahun dalam pingitan, Kartini muda mulai menulis surat dan artikel yang memikat perhatian kaum elite Belanda. Korespondensinya dengan sejumlah tokoh belanda dibuka lewat perkenalannya dengan Marie Ovink-Soer, istri Residen Jepara.

Estelle Zeehandelaar, aktivis feminis menjawab iklan permintaan sahabat pena Kartini dan dimulailah korespondensi diantara dua gadis berpikiran maju dari dua bangsa yang berbeda yang belum bertemu seumur hidup itu. Dalam surat-suratnya Kartini membahas tradisi perjodohan, poligami, opium, agama, bahasa  Belanda sebagai pintu pengetahuan, nasib perempuan Jawa yang tertindas, kebijakan politik kolonial yang merugikan pribumi, dan rencananya bersekolah di negeri Belanda.

2.Cut Nyak Dhien

Pada 22 Maret 1873, meletuslah Perang Aceh. Pertempuran dahsyat itu terjadi di Kutaraja. Para pejuang Aceh berhasil membunuh Jenderal Kohler, komandan angkatan perang Belanda. Belanda marah dan dibawah pimpinan Van Switten, tentara Belanda kembali menyerang Tanah Rencong. Awalnya Cut Nyak Dhien hanya menjadi pembakar semangat sang suami yang terjun ke medan perang. Namun ketika Belanda membakar Masjid Besar Aceh, darah pejuangnya mendidih. Bersama sang suami dan para pejuang aceh, Cut Nyak Dhien bergabung dalam pertempuran.

img-1460115229.jpg
Cut Nyak Dhien/Biografiku.com

Cut Nyak Dhien mengambil alih pucuk pimpinan perjuangan ketika ayah dan suaminya gugur. Dibawah kendalinya, pasukan Cut Nyak Dien beberapa kali melancarkan serangan. Setelah enam tahun sendirian memimpian perlawanan, akhirnya Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dan dikebumikan di kompleks pemakaman bangsawan Sumedang. Pemerintah menetapkan Cut Nyak Dien sebagai pahlawan pada 2 mei 1964.

3.Cut Nyak Meutia

img-1460115274.jpg
Cut Nyak Meutia/Wikipedia.org

Tahun 1900-an, banyak pejuang Aceh yang tewas. Gerakan tentara Belanda bahkan sudah masuk ke pedalaman Aceh. Cut Nyak Meutia – Teuku Cik Tunong bahu membahu memimpin perjuangan gerilya didaerah Pasai, Aceh Utara sehingga behasil melumpuhkan pertahanan tentara Belanda.

Pada 24 Oktober 1910, tempat Meutia bersembunyi ditemukan oleh Belanda. Berbekal sebilah rencong, Meutia melawan. Tetapi tembakan tentara Belanda keburu mengenai tubuh Meutia. Meutia pun gugur saat itu juga.

4.Dewi Sartika

img-1460115807.jpg
Dewi Sartika/Biografiku.com

Dewi sartika dilahirkan di Cicalengka, Jawa Barat. Ayahnya, Raden Somanegara adalah patih di Bandung yang getol melawan penjajahan Belanda. Dewi Sartika Kecil pun dikeluarkan dari sekoah Belanda karena dianggap anak pemberontak. Uwi, nama kecil Dewi Sartika bertekad mendirikan sekolah perempuan. Niat itu kesampaian setelah ia menamatkan sekolah rakyat pada usia 15 tahun. Atas bantuan kakeknya, R.A.A Martanegara, Dewi sartika membuka “Sakola Istri”. Murid pertamanya 20 siswi, diajar berhitung, membaca, menulis, jahit-menjahit dan berhitung.

Prof. Dr. Viviane Sukanda-Tessier, peneliti Perancis yang pernah membuat monografi Tentang Dewi Sartika, menilai Dewi Sartika memiliki peran besar membuat para perempuan melek pengetahuan dan menjadi pelopor emansipasi wanita.

5.Nyi Ageng Serang

img-1460115844.jpg
Nyi Ageng Serang/Wikipedia.org

Tokoh perempuan ini terlahir dengan nama Raden Ajeng Kustiah Raetno Edi. Julukan Nyi Ageng Serang mereujuk pada tempat kelahirannya di Serang, Solo, Jawa Tengah. Darah pejuang mengalir dari ayahnya, Bupati Serang Pangeran Notoprojo yang tak lain panglima perang Pangeran Mangkubumi saat menentang tentara kolonial Belanda.

Memasuki abad ke-19, belanda makin menancapkan kukunya. Merekalah yang mengatur naik-turunnya raja di seantero Jawa, termasuk di Solo dan Yogyakarta. Campur tangan inilah yang kemudian mencetuskan perang Diponegoro. Nyi Ageng Serang pun menggabungkan diri  usianya tak muda lagi, 73 tahun, ia terlibat dalam pertempuran-pertempuran di Purwodadi, Semarang, Demak, Kudus, Juwana dan Rembang. Bahkan , ia pernah memimpin langsung dalam perang gerilya di Kabupaten Kulonprogo. Nyi Ageng Serang pun pernah dapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mempertahankan Prambanan yang sudah direbut dari Belanda.

6.Martha Khristina Tiahahu

img-1460115884.jpg
Khristina Tiahahu/Pahlawanindonesia.com

Dari jajaran pahlawan kemerdekaan, barangkali hanya Khristina Tiahahu yang tergolong berusia muda. Ia menghembuskan nafas terakhir ketika masih sangat muda:18 tahun. Khristina Tiahahu dilahirkan pada 1800. Ia anak seorang Raja Abubu bernama Paulus Tiahahu. Sang raja kemudian mengundurkan diri karena sudah uzur dan diangkat menjadi panglima pasukan Nusalaut. Meski masih belia, Khristina Tiahahu tidak tinggal diam. Ia merasakan benar denyut nadi penderitaan rakyat dan setia mendampingi ayahnya dalam berjuang mengusir Belanda dari tanah airnya, Kepulauan Maluku. Saat umurnya masih 17 tahun, ia sudah terbiasa menenteng bedil. Berkat kerjasama dengan ayahnya, benteng Belanda, Duurstede, bisa direbut pada 17 mei 1817.

 

Penulis: Ifa Ikah

Header: Dailymoslem


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

ayooo..ayooo..dibaca... banyak rtikel-artikel menarik lohh :) ...

Kintan Lestari

Keren!!! speakmagz volume duanya udah terbit...

Kintan Lestari

jalan-jalan ke kota paris, jangan lupa beli pepaya, semoga semakin keren ! #ceritanyagagalberpantu...

Leo_alp

Selalu menjadi jendela dunia yang terbaik...

Herzanindya Maulianti

Welcome to RMC Family!! Akhirnya portal online ini rilis, perpaduan antara entertainment dan edukasi...

Alicia Van Akker

semoga semakin bagus kedepannya :) ...

Kintan Lestari

akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga! Semoga terus meningkatkatkat...

Sifa Maulida
Kategori